1. Respon frekuensi
Umumnya manusia hanya bisa mendengarkan frekuensi audio dari 20 - 20kHz. Semakin tua pendengaran manusia makin menurun pada frekuensi tinggi. Namun amplifier tidak didisain memiliki respon frekuensi dari 20-20kHz saja. Pertimbangannya antara lain toleransi komponen. Kemudian banyak juga amplifier yang memiliki respon frekuensi yang sangat lebar (sampai beberapa ratus kilo hertz bahkan sampai 1Mhz) memiliki kualitas suara yang lebih baik, meskipun ini masih menjadi perdebatan. Cara mengukur respon frekuensi dengan masukan sinyal sinus dan keluarannya diukur dengan osiloskop atau dengan sinyal sinus yang di sweep dan keluarannya diukur dengan spectrum analyzer.
2. Total Harmonic Distortion (THD)
Sinyal sinus murni jika ditampilkan pada spectrum analyzer, hanya terlihat pada satu frekuensi. Namun sinyal sinus yang cacat akan terlihat menjadi beberapa frekuensi. Sinyal-sinyal selain frekuensinya sendiri ini yang dinamakan Total Harmonic Distortion (THD). Makin kecil THD makin linear amplifier tersebut. Umumnya manusia hanya bisa membedakan THD pada sinyal sinus sampai 0,01%. Namun hal ini masih menjadi perdebatan. Pada sinyal yang lebih kompleks, THD makin susah dideteksi dengan telinga manusia. Cara pengukurannya dengan sinyal sinus 1Khz dan keluarannya pada Audio Distortion Meter. Pakai spectrum analyzer juga bisa namun harus dihitung manual agar menghasilkan THD dalam besaran % (persen).
3. Signal To Noise (S/N) Ratio
S/N Ratio adalah perbandingan antara sinyal dan bukan sinyal (noise) dalam desibel (dB). Amplifier yang ideal seharusnya jika input tidak ada sinyal maka di keluran juga tidak ada tegangan AC sama sekali. Namun karena tidak ideal maka selalu ada noise. Cara pengukurannya dengan cara masukan dihubungkan dengan resistor 600 atau 50 Ohm ke ground dan keluarannya diukur dengan S/N Ratio meter. Pada S/N Ratio meter bisa diberi filter yang biasa disebut A weighted atau tanpa filter atau disebut non A weighted. Kemudian hasilnya dibandingkan dengan sinyal sinus 1Khz yang normal (tidak clipping).
Jika pada pre-amp, beban keluarannya umumnya 600 Ohm, pada amplifier umumnya pakai resistor daya 8 Ohm atau 4 Ohm.
4. Cross talk
Cross talk ini adalah interferensi sinyal audio dari satu channel ke channel lainnya. Cara pengukurannya dengan memberikan sinyal sinus (biasanya 1kHz) pada salah satu channel saja. Kemudian diukur tegangan sinus tersebut pada semua channel. Idealnya channel yang tidak diberi sinyal pada masukannya, pada keluarannya juga tidak akan ada sinyal. Ketidakidealan inilah yang diukur, yaitu membandingkan tegangan sinus pada keluaran yang dibeli masukan sinyal sinus dan keluaran yang tidak diberi masukan sinyal sinus. Perbandingannya dalam bentuk desibel.
5. Input sensitivity
Adalah ukuran tegangan input maksimal agar keluaran amplifier menghasilkan tegangan output maksimal tapi tidak clipping. Sebenarnya mirip dengan mengukur penguatannya. Amplifier tidak memiliki standar input sensitivity. Tapi untuk home audio memiliki standar line level sebesar 0.316Vrms dan profesional audio sebesar 1.228Vrms. Bila input sensitivity nya kurang dari standar tersebut (perlu tegangan input yang lebih besar) maka diperlukan pre-amp.
6. Daya Amplifier
Adalah daya maksimum dari sebuah amplifier untuk mengerakkan speaker. Karena umumnya speaker impedansinya 8 dan 4 Ohm, maka pengukurannya dengan resistor daya 8 dan 4 Ohm sebagai beban. Cara pengukurannya dengan memberikan masukan sinyal sinus agar pada keluarannya tegangannya maksimal tapi tidak clipping. Hasil pengukurannya dalam Watt RMS, yaitu tegangan keluaran RMS dikuadratkan lalu bagi nilai resistor bebannya. Biasanya besar cacat sinyal keluarannya juga dicantumkan. Ada juga yang mencantumkan continues artinya tanpa batasan waktu amplifier tersebut tetap tidak masalah. Dan tidak continues artinya ada batasan waktu ketahanan amplifier tersebut. Ini biasanya berhubungan dengan kemampuan pendinginan (heatsink) dari amplifier tersebut.
7. SMPTE IM
SMPTE intermodulation distortion adalah cara pengukuran cacat intermodulation yang dikembangkan oleh SMPTE dan biasanya dipakai pada produk video tape recorder. Kemudian standard ini juga diterima pada produk audio pada umumnya. Cara pengukurannya adalah dengan memberikan input sinyal sinus 60 Hz dan 7000 Hz dengan perbandingan level 4:1. Keluarannya diukur dengan THD Analyzer yang memiliki filter SMPTE atau memakai spectrum analyzer.
8. CCIF IM
Karena frekuensi audio mencapai frekuensi 20kHz, maka cacat pada frekuensi 20kHz juga penting. Namun jika dipakai pengukuran THD maka sinyal harmonik frekuensinya lebih tinggi lagi yaitu 40kHz, 60kHz, dst. Ini akan sulit untuk diukur. Untuk itu dikembangkan CCIF intermodulation distortion. Cara pengukurannya dengan memberikan input sinyal sinus 19kHz dan 20kHz dengan level 1:1. Pada output dihubungkan spektrum analyzer. Pada spektrum analyzer akan keluar frekuensi 1kHz, 2kHz, 3Khz dan seterusnya. Pada frekuensi tinggi akan keluar sinyal 21kHz, 22kHz, 23kHz dan seterusnya. Sinyal di bawah 19kHz yang diukur karena lebih mudah diamati dan tidak membutuhkan alat ukur yang memiliki bandwidth yang lebar.
Umumnya pengukuran tadi bisa dilakukan dengan soundcard yang berkualitas baik. Untuk pengukuran yang lain, Insya Allah menyusul.
Umumnya manusia hanya bisa mendengarkan frekuensi audio dari 20 - 20kHz. Semakin tua pendengaran manusia makin menurun pada frekuensi tinggi. Namun amplifier tidak didisain memiliki respon frekuensi dari 20-20kHz saja. Pertimbangannya antara lain toleransi komponen. Kemudian banyak juga amplifier yang memiliki respon frekuensi yang sangat lebar (sampai beberapa ratus kilo hertz bahkan sampai 1Mhz) memiliki kualitas suara yang lebih baik, meskipun ini masih menjadi perdebatan. Cara mengukur respon frekuensi dengan masukan sinyal sinus dan keluarannya diukur dengan osiloskop atau dengan sinyal sinus yang di sweep dan keluarannya diukur dengan spectrum analyzer.
2. Total Harmonic Distortion (THD)
Sinyal sinus murni jika ditampilkan pada spectrum analyzer, hanya terlihat pada satu frekuensi. Namun sinyal sinus yang cacat akan terlihat menjadi beberapa frekuensi. Sinyal-sinyal selain frekuensinya sendiri ini yang dinamakan Total Harmonic Distortion (THD). Makin kecil THD makin linear amplifier tersebut. Umumnya manusia hanya bisa membedakan THD pada sinyal sinus sampai 0,01%. Namun hal ini masih menjadi perdebatan. Pada sinyal yang lebih kompleks, THD makin susah dideteksi dengan telinga manusia. Cara pengukurannya dengan sinyal sinus 1Khz dan keluarannya pada Audio Distortion Meter. Pakai spectrum analyzer juga bisa namun harus dihitung manual agar menghasilkan THD dalam besaran % (persen).
3. Signal To Noise (S/N) Ratio
S/N Ratio adalah perbandingan antara sinyal dan bukan sinyal (noise) dalam desibel (dB). Amplifier yang ideal seharusnya jika input tidak ada sinyal maka di keluran juga tidak ada tegangan AC sama sekali. Namun karena tidak ideal maka selalu ada noise. Cara pengukurannya dengan cara masukan dihubungkan dengan resistor 600 atau 50 Ohm ke ground dan keluarannya diukur dengan S/N Ratio meter. Pada S/N Ratio meter bisa diberi filter yang biasa disebut A weighted atau tanpa filter atau disebut non A weighted. Kemudian hasilnya dibandingkan dengan sinyal sinus 1Khz yang normal (tidak clipping).
Jika pada pre-amp, beban keluarannya umumnya 600 Ohm, pada amplifier umumnya pakai resistor daya 8 Ohm atau 4 Ohm.
4. Cross talk
Cross talk ini adalah interferensi sinyal audio dari satu channel ke channel lainnya. Cara pengukurannya dengan memberikan sinyal sinus (biasanya 1kHz) pada salah satu channel saja. Kemudian diukur tegangan sinus tersebut pada semua channel. Idealnya channel yang tidak diberi sinyal pada masukannya, pada keluarannya juga tidak akan ada sinyal. Ketidakidealan inilah yang diukur, yaitu membandingkan tegangan sinus pada keluaran yang dibeli masukan sinyal sinus dan keluaran yang tidak diberi masukan sinyal sinus. Perbandingannya dalam bentuk desibel.
5. Input sensitivity
Adalah ukuran tegangan input maksimal agar keluaran amplifier menghasilkan tegangan output maksimal tapi tidak clipping. Sebenarnya mirip dengan mengukur penguatannya. Amplifier tidak memiliki standar input sensitivity. Tapi untuk home audio memiliki standar line level sebesar 0.316Vrms dan profesional audio sebesar 1.228Vrms. Bila input sensitivity nya kurang dari standar tersebut (perlu tegangan input yang lebih besar) maka diperlukan pre-amp.
6. Daya Amplifier
Adalah daya maksimum dari sebuah amplifier untuk mengerakkan speaker. Karena umumnya speaker impedansinya 8 dan 4 Ohm, maka pengukurannya dengan resistor daya 8 dan 4 Ohm sebagai beban. Cara pengukurannya dengan memberikan masukan sinyal sinus agar pada keluarannya tegangannya maksimal tapi tidak clipping. Hasil pengukurannya dalam Watt RMS, yaitu tegangan keluaran RMS dikuadratkan lalu bagi nilai resistor bebannya. Biasanya besar cacat sinyal keluarannya juga dicantumkan. Ada juga yang mencantumkan continues artinya tanpa batasan waktu amplifier tersebut tetap tidak masalah. Dan tidak continues artinya ada batasan waktu ketahanan amplifier tersebut. Ini biasanya berhubungan dengan kemampuan pendinginan (heatsink) dari amplifier tersebut.
7. SMPTE IM
SMPTE intermodulation distortion adalah cara pengukuran cacat intermodulation yang dikembangkan oleh SMPTE dan biasanya dipakai pada produk video tape recorder. Kemudian standard ini juga diterima pada produk audio pada umumnya. Cara pengukurannya adalah dengan memberikan input sinyal sinus 60 Hz dan 7000 Hz dengan perbandingan level 4:1. Keluarannya diukur dengan THD Analyzer yang memiliki filter SMPTE atau memakai spectrum analyzer.
8. CCIF IM
Karena frekuensi audio mencapai frekuensi 20kHz, maka cacat pada frekuensi 20kHz juga penting. Namun jika dipakai pengukuran THD maka sinyal harmonik frekuensinya lebih tinggi lagi yaitu 40kHz, 60kHz, dst. Ini akan sulit untuk diukur. Untuk itu dikembangkan CCIF intermodulation distortion. Cara pengukurannya dengan memberikan input sinyal sinus 19kHz dan 20kHz dengan level 1:1. Pada output dihubungkan spektrum analyzer. Pada spektrum analyzer akan keluar frekuensi 1kHz, 2kHz, 3Khz dan seterusnya. Pada frekuensi tinggi akan keluar sinyal 21kHz, 22kHz, 23kHz dan seterusnya. Sinyal di bawah 19kHz yang diukur karena lebih mudah diamati dan tidak membutuhkan alat ukur yang memiliki bandwidth yang lebar.
Umumnya pengukuran tadi bisa dilakukan dengan soundcard yang berkualitas baik. Untuk pengukuran yang lain, Insya Allah menyusul.

)